



Mayoritas anggota DPR sepakat ada penyimpangan dalam kasus Bank Century. Sementara Presiden tetap mengatakan tidak ada penyimpangan. Menurut Anda?
Air mata saya tak terbendung lagi. Adegan itu sungguh menyentuh dan menggetarkan hati. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa ayah Farhan bisa berubah drastis dan menyetujui pilihan anaknya untuk menjadi fotografer.
Seorang ibu datang ke rumah Pak Gendu membawa sebuah kantong kertas berwarna coklat. “Ini titipan dari suami saya,” ujar sang ibu. Ketika kantong kertas itu dibuka, Hartono terperanjat dan menatap sang ibu dengan pandangan tidak mengerti.
Namanya Gulam. Tubuhnya tinggi, atletis, dengan kulit cenderung hitam. Penampilannya necis. Untuk ukuran orang Pakistan, wajahnya terbilang tampan. Dia menjemput saya dan keluarga di Heathrow Airport, London
Menjelang ulang tahun adalah saat-saat yang paling menakutkan dalam hidup saya. Ada trauma masa kecil yang terus memenuhi alam bawah sadar saya. Perasaan itu selalu muncul menyeruak ke permukaan menjelang saya berulang tahun.
Saya tertegun. Darah di seluruh tubuh terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih.
Di depan puluhan muridnya, perempuan itu memeluk saya erat-erat. Air matanya berlinang. Untuk sejenak saya terpaku. Tidak menduga adegan itu akan terjadi. Semua serba tiba-tiba.
Saya tersentak mendengar syair yang dinyanyikan anak2 itu dengan sepenuh hati. Usia mereka saya taksir sekitar 12-15 tahun. Sembari menyanyikan lagu berjudul “Pak Haru” itu, mereka memainkan gitar,bas,gendang,termasuk alat musik drum yang sederhana. Mereka adalah penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak-Anak Tangerang. “Lagu ini saya persembahkan untuk Pak Haru,” ujar Anjar yang menjadi penyanyi. Selama band anak-anak yang dibentuk dalam LP itu menyanyikan lagu yang khusus yg mereka ciptakan bagi Pak Haru, hati saya mengharu biru.
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Peristiwa ini terjadi di Pintu Satu Senayan. Saat itu saya sedang mengendarai mobil. Sekitar dua puluh meter sebelum berbelok ke Jalan Pintu Satu Senayan, saya menyalakan lampu sinyal. Tetapi beberapa pengendara sepeda motor seakan tak perduli. Mereka tetap memaksa dan menerobos. Satu, dua, sepeda motor berhasil lolos. Tetapi sepeda motor ketiga gagal. Tabrakan tak terhindarkan.
Saya menahan nafas dan hampir tak tahan melihat wajah Pepeng yang meringis menahan sakit. Setiap kali kursi roda yang diduduk Pepeng digeser, mantan presenter kondang ini terlihat menahan rasa sakit yang tak terhingga. Padahal pergeseran kursi roda itu sudah dilakukan dengan sangat hati-hati.
Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso.
Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.
Saya tidak tahan mendengar cerita istri dan teman-temannya tentang anak-anak penderita kanker. Tentang penderitaan mereka selama pengobatan. Juga cerita bagaimana anak-anak itu terpaksa naik ojek atau bajaj seusai pengobatan kemoterapi. Sulit membayangkan dalam usia kanak-kanak seperti itu mereka sudah harus menghadapi cobaan hidup yang begitu berat.
“Kawan-kawan, seorang ibu dan tiga anaknya masih terjebak banjir di Kampung Melayu. Sudah dua hari mereka tidak mendapat suplai makanan. Bantuan dapat disalurkan melalui posko relawan atau tim SAR di lokasi”. Begitu bunyi salah satu SMS yang dikirim Nor Pud.
Orang-orang yang bunuh diri, rohnya tidak akan pernah sampai ke tujuan. Mereka juga tidak bisa kembali ke tempat dari mana mereka datang. Mereka “tersangkut” di tengah jalan tanpa kepastian.
Begitu kapal mendekati perairan Brunei, sekelompok kadet menyergap saya. Jam tangan dan sepatu saya dicopot paksa. Termasuk dompet di kantong celana dikeluarkan. Setelah itu mereka menggotong saya ke geladak. Dalam hitungan detik tubuh saya dilempar melalui pagar geladak dan melayang di udara bebas kemudian tercebur di telan ombak laut.