



Mayoritas anggota DPR sepakat ada penyimpangan dalam kasus Bank Century. Sementara Presiden tetap mengatakan tidak ada penyimpangan. Menurut Anda?
“…Galang Rambu Anarki anakku....lahir awal Januari menjelang Pemilu …. galang rambu anarki dengarlah ....” terdengar lantang dinyanyikan oleh Iwan Fals di program Kick Andy awal Februari ketika saat bersamaan tanpa saya tahu sebab musababnya masuk sms dari kawan saya di handphone bertuliskan ”....Hanya mau bilang saja kalo Gemar Produk Indonesia musti kita gerakkan lagi...”.
Istilah yang menjadi judul artikel di atas dikutip dari ungkapkan Andy F Noya ketika menyerahkan karikatur kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pada Kick Andy episode akhir November 2009 lalu. Ketika menyerahkan karikatur bergambar
Selebritis Connie Sutedja yang tampil di Kick Andy edisi akhir Mei menceritakan pengalamannya mengoleksi botol. Ribuan botol disimpan dan ditata di pelosok-pelosok rumahnya.
Judul artikel di atas merupakan ‘celetukan’ dari teman saya yang penyayang produk Indonesia ketika baru pulang dari meninjau pameran sepatu dan produk kulit yang diadakan di Jakarta baru lalu. Teman saya tadi resah karena produk berkualitas bagus di pameran tersebut ‘ditempeli’ merek asing terkenal. Dia tanya sama penjualnya kenapa harus pakai merek asing? Maklum dia lebih nyaman dan bangga kalau pakai produk lokal bermerek lokal.
Berkomunikasi dengan publik menjelang pemilu memang sensisitf. Bisa-bisa diartikan jauh banget, seperti komentar yang bertubi-tubi diterima Bung Andy karena mewawancarai Megawati di Kick Andy sehingga perlu dibuatkan tulisan untuk menjelaskannya. Tetapi sebelum judul tulisan ini diartikan nyerempet kampanye juga, buru-buru mendingan saya jelaskan bahwa saya memang sedang bermaksud menulis tentang telor asin beneran.
Dunia brand itu umumnya ‘dunia disiplin’, apalagi menyoal tentang brand identity. Brand identity Kick Andy misalnya, ya “harus” seperti itu di semua aplikasi. Perlu ada alas sepatu berwarna merah. Tampilan logonya menggunakan font yang berasal dari tulisan tangan Andy F Noya, dan “harus” konsisten di manapun juga. Dan jadilah kita ingat dan punya citra yang mantap tentang KICK ANDY kita ini.
Komunitas kita di kickandy.com memang istimewa. Kita bisa saling menginspirasi, dan bisa saling memberi. Saya sendiri sering terinspirasi oleh komentar-komentar Anda sebagai sesama loyalis Kick Andy. Komentar-komentar atas tulisan Laskar ’Pelangi’ Indonesia misalnya, telah memberi inspirasi bagi saya dan tentunya kita semua.
“Yang harus kalian ingat, anak-anakku: Jangan cepat menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”, begitu kira-kira pesan Pak Cik sebelum meninggal di ruang kelas SD Muhammadiyah di Pulau Belitong yang dipimpinnya. Lengkaplah tugas Pak Cik sebagai ’pahlawan’ dan guru bagi Laskar Pelangi. Pahlawan memang harus mati, tetapi cita-citanya abadi. Bahkan semasa hidupnya, Pak Cik pernah berucap kepada ibu guru Muslimah ”Tugas kita adalah meyakini anak-anak agar mereka berani punya cita-cita.”
Minggu lalu saya mengetuai panpel Rakornas Perdagangan dan Distribusi KADIN Indonesia 2008. Tema yang diangkat adalah “Nasionalisme dalam Era Perdagangan Bebas”. Kita bisa ‘sirik’ dan menyindir “Hari gini masih bicarain nasionalisme”. Atau lebih ekstrim lagi “Ini pasti akal-akalan pengusaha minta perlindungan”.
“Itu teman papi: Kick Andy!!. Tapi kok pake topi ya?” begitu komentar anak saya ketika melihat foto Andy F Noya yang menjadi tamu profil di harian Kompas 21 September 2008.
Celetukan spontan anak saya tadi membuat saya merasa perlu membaca ulang tulisan yang menampilkan sosok Andy Noya tersebut. Kemudian saya kirim sms mengutip tulisan di Kompas tadi sambil ‘ngeledek’ Andy Noya yang sedang di Boston-Amerika untuk ‘kuliah’ lagi, antara lain: “Aku mau jadi tikus tapi kepalanya kecil (maksudnya rendah hati), daripada jadi macan tapi ekornya putus. Kata siapakah itu?”
Banyak yang mengeluh: “hidup susah”. Banyak juga yang ‘pasrah’ dan melakoni hidup tanpa gairah. Banyak juga yang merasa tidak punya harapan, dan bahkan bermimpipun tidak mampu.
Musim promosi diri dan re-branding personal sekarang lagi marak. Rizal Malarangeng, Soetrisno Bachir, Wiranto, Prabowo Subianto dan Amien Rais lagi berebut perhatian publik. Tentu saja tidak ketinggalam juga SBY dan JK. Personal branding memang lagi naik daun. Ada yang setuju, ada juga yang alergi.
