



Mayoritas anggota DPR sepakat ada penyimpangan dalam kasus Bank Century. Sementara Presiden tetap mengatakan tidak ada penyimpangan. Menurut Anda?
“…Galang Rambu Anarki anakku....lahir awal Januari menjelang Pemilu …. galang rambu anarki dengarlah ....” terdengar lantang dinyanyikan oleh Iwan Fals di program Kick Andy awal Februari ketika saat bersamaan tanpa saya tahu sebab musababnya masuk sms dari kawan saya di handphone bertuliskan ”....Hanya mau bilang saja kalo Gemar Produk Indonesia musti kita gerakkan lagi...”. SMS kawan saya tadi membangunkan nostalgia pada program bersama Gemar Produk Indonesia yang saya koordinir di KADIN bersama tim beberapa tahun lalu.
Provokasi dobel lagu Iwan Fals dan sms tadi mendorong saya untuk menuliskan artikel ini. Sambil mengetik di komputer, satu stoples pop corn menemani saya. Loh kok malah mempromosikan ”pop corn” yang bukan produk Indonesia?
Isyu seputar perdagangan bebas yang akhir-akhir ini kembali marak telah mengusik kesadaran kita akan perlunya memberi perhatian pada produk lokal. Mendorong kegemaran pada produk Indonesia merupakan salah satu jawabnya. Tetapi apakah ”pop corn” yang menemani saya menyusun tulisan ini termasuk produk Indonesia?
Idealnya produk Indonesia yang kita dorong untuk lebih banyak digunakan adalah produk yang diproduksi di Indonesia oleh tenaga kerja Indonesia dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari Indonesia dan jangan lupa bermerek Indonesia dan kalau bisa perusahaannya dipunyai oleh orang Indonesia.
Bolehkah kita menggunakan bahan baku impor atau unsur impor lainnya? Kalau pertanyaannya antara boleh dan tidak boleh, tentu saja jawabannya: ”...ya boleh-boleh saja....” Di era perdagangan bebas yang melanda dunia seperti sekarang ini, pasokan dari seluruh penjuru dunia memberi makna positif dan negatif.
Dari sudut pandang konsumen, perdagangan bebas berarti tersedianya lebih banyak pilihan produk dengan variasi kualitas dan harga. Perdagangan bebas juga menambah pasar produk Indonesia di luar negeri, tetapi juga sekaligus berdampak membanjirnya produk impor di pasar domestik. Dengan posisi kontradiktif seperti itu, memang tidak mudah menyimpulkan apakah perdagangan bebas lebih menguntungkan atau merugikan.
Sembari kita persilahkan pihak-pihak yang berkompeten untuk mengambil kebijakan terbaik, tidak ada salahnya kita sebagai anggota masyarakat Indonesia memberi perhatian lebih besar pada produk Indonesia. Tanpa perlu membangun sentimen negatif pada produk impor atau produk asing, kita bisa menunjukkan kecintaan dan kepedulian pada Indonesia dengan lebih banyak menggunakan produk Indonesia.
Setelah terprovokasi Iwan Fals dan sms tadi, saya ikut tergerak untuk menunjukkan kegemaran pada produk Indonesia sebelum memulai menuliskan artikel ini. Saya ke ruang makan mencari cemilan. Saya menemukan pisang yang produk Indonesia karena ditanam disini, meskipun bisa jadi asal-usulnya dahulu kala dibawa orang luar negeri ke Indonesia. Saya coba cari produk Indonesia lainnya yang biasanya selalu tersedia di ruang makan kami, tetapi ternyata ’laku keras’ dan sedang habis.
Yang masih ada di meja makan adalah pop corn. Loh menulis tentang produk Indonesia kok ditemani produk impor? Untung masih ada alasan untuk ‘ngeles’, karena pop corn yang menemani saya malam ini diolah dan dikemas di Indonesia oleh orang Indonesia seperti terlihat di labelnya meskipun nama, asal-usul dan bahan bakunya berasal dari luar negeri.
Mendorong penggunaan produk Indonesia memang tidaklah harus ekstrim, karena kalau terlalu ideal bisa jadi malah tidak pernah memulai. Rasanya lebih baik kita mulai apa saja yang bisa dilakukan dengan niat menggunakan lebih banyak produk Indonesia.
Lewat tengah malam, stoples pop corn yang tadinya penuh sekarang tinggal berisi separoh. Daripada merasa ‘berdosa’ karena mengkonsumsi setengah stoples produk impor, lebih baik saya melihat dari sudut pandang bahwa pop corn tadi adalah produk dalam negeri yang dihasilkan oleh anak-anak negeri dengan bahan baku asal luar negeri.
Memang kurang afdol kalau tidak beneran 100 persen produk asli dalam negeri. Agar lebih afdol, kita lanjutkan saja menyanyi lagu karya anak Indonesia Iwan Fals ”... Galang Rambu Anarki dengarlah ...terompet tahun baru menyambutmu...” Kita sambut karyamu sembari terus menggemari produk Indonesia.
Betul nggak?
Jakarta, 6 Februari 2010
Handito Joewono
Chairman Branding Indonesia
handito@joewono.me
