logo
Tayang Setiap : Jumat pk 21.30 WIB
Tayang ulang : Minggu pk 15.30 WIB

Jumat, 12 Maret 2010 00:00:00 Wib    About Kick Andy | Mobile Web | Contact

Kickandy On : Youtube Facebook Twitter

  • Home
  • The Show
  • Foundation
  • Andy`s Friend
  • Andy`s Corner
  • Store
  • Andy`s Fan
  • Partner
Login | Register
  • Jumat, 12 Maret 2010 21:30:00 Wib
    CINTA DALAM SEPOTONG GINJAL
    Bagaimana rasanya memiliki organ dalam tubuh saudara, anak, ibu atau ayah kandung, atau justru milik orang lain yang tidak diketahui jati dirinya sama sekali? Apakah jika ada saudara, teman atau orang lain yang Anda kasihi membutuhkan salah satu organ tubuh Anda
    Video
    Nonton Distudio
    Arsip The Show
  • Jumat, 05 Maret 2010 21:30:00 Wib
    INOVASI TIADA BATAS
    Jangan pernah bilang kalau perkembangan kreatifitas dan inovasi anak negeri di bidang teknologi informatika jauh ketinggalan dibanding sumber daya manusia dari negara lain, di hadapan para narasumber Kick Andy episode ini.
    Video
    Nonton Distudio
    Arsip The Show
  • Jumat, 26 Februari 2010 21:30:00 Wib
    KASIH UNTUK DUNIA
    Kadang kita tak habis mengerti tentang apa yang ingin dicari lagi manusia di dunia ini. Padahal dengan jabatan dan profesi yang telah dimiliki atau diraih, mereka bisa dengan mudah mendapatkannya.
    Video
    Nonton Distudio
    Arsip The Show
  • Jumat, 19 Februari 2010 21:30:00 Wib
    PENGAKUAN SUSNO
    Komisaris Jendral Susno Duadji hadir di studio dengan pakaian atas putih dan celana berwarna coklat, yang dibalut jaket dinas kepolisian, lengkap dengan name tag dan tiga bintangnya.
    Video
    Nonton Distudio
    Arsip The Show
  • Jumat, 12 Februari 2010 21:30:00 Wib
    PERADILAN SESAT
    Adagium yang berkata lebih baik melepaskan 1000 orang bersalah, daripada menahan atau memenjarakan satu orang tidak bersalah, sepertinya tidak terlalu “laku” di dunia peradilan Indonesia.
    Video
    Nonton Distudio
    Arsip The Show
Artikel Sebelumnya
  • Selasa, 13 Januari 2009 14:42:00 Wib
    The Lightening Thief
  • Selasa, 13 Januari 2009 14:28:00 Wib
    Read Aloud Handbook
  • Selasa, 13 Januari 2009 10:23:00 Wib
    KEBERANIAN BERNAMA MUNIR: Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir
  • Selasa, 13 Januari 2009 10:18:00 Wib
    Anne of Green Gables: Novel tentang Kasih Sayang dan Pengorbanan
  • Selasa, 13 Januari 2009 10:16:00 Wib
    Dari Langit
Polling

Mayoritas anggota DPR sepakat ada penyimpangan dalam kasus Bank Century. Sementara Presiden tetap mengatakan tidak ada penyimpangan. Menurut Anda?

 Tidak ada penyimpangan
 Ada penyimpangan
 Ragu - Ragu
sukma


Kick Andy Foundation
Ingin membantu bagi mereka yang membutuhkan


sukma

sukma
New Book
Rabu, 23 Desember 2009 10:56:00 Wib
Pahlawan Sunyi Disekitar Kita
kick andy Judul Buku : Se7en Heroes
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : xviii + 190 hlm
Penulis : Ben Sohib

Siapa sebenarnya yang layak untuk disebut sebagai Pahlawan? Adakah pengertian ataupun batasan yang objektif untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pahlawan? Kali ini, kisah para peraih Kick Andy Heroes Award ditampilkan dalam buku bertajuk Se7en Heroes : Tujuh Pahlawan Pilihan “Kick Andy”. Imam Prasodjo dalam kata pengantar menyebut orang-orang ini sebagai orang-orang abnormal. Orang-orang yang memiliki mimpi, angan-angan, cita-cita yang kuat dan diperjuangkan dengan penuh kesungguhan, sekalipun harus mengorbankan kenyamanan hidup yang sebenarnya bisa dengan mudah didapatkan.

Sebut saja nama Gisella Borrowka, seorang suster dari Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk para penderita kusta di Indonesia. Namanya lebih dikenal dengan sebutan “Mama Putih”. Saat semua orang pergi dan tidak ada yang peduli dengan para penderita kusta, Gisella datang dengan penuh kesabaran merawat mereka. Ia rela meninggalkan semua kemapanan hidup yang dapat diperolehnya dengan mudah di tanah kelahirannya di Jerman.

Orang-orang abnormal ini mungkin terkesan gila. Orang normal mana yang rela meninggalkan kemapanan yang sudah pasti didapatkan. Tanyakan hati nurani anda untuk menjawabnya. Gendu Mulatif mungkin juga gila. Sama gilanya dengan orang-orang gila yang senantiasa dirawatnya. Pria yang akrab dipanggil Baba Gendu awalnya hanya membangun pos ronda disetiap RT di lingkungan tempat tinggalnya. Saat orang gila mulai senang menempati pos ronda yang dibangunnya, alih-alih mengusir ia justru merawat orang gila tersebut.

Cap sebagai orang gila kemudian melekat pada Baba Gendu. Demi merawat orang gila, anaknya sendiri ia minta untuk menjemput orang gila agar dapat ia rawat. Tidak main-main, semua dilakukannya dengan biaya sendiri dari usaha delman yang dilakoninya. Bahkan anak-anak kecil yang biasa memperoleh jatah uang hasil usaha delman, harus bersaing dengan para penderita sakit jiwa yang sekarang memenuhi rumah Baba Gendu.

“Kalau pengen hidup lu enak, lu enakin dulu hidup orang lain,” itulah prinsip hidup yang selalu dipegangnya sehingga caci-maki, hinaan ataupun cap sebagai orang gila tak lagi dihiraukannya. Baba Gendu bahkan rela menjual kudanya satu persatu agar dapat terus merawat para orang gila tersebut.

Orang gila lainnya adalah Baba Akong. Saat semua orang bersikukuh untuk menanam kelapa atau mede daripada bakau, ia tetap pada pendiriannya untuk menanam bakau disepanjang pantai mencegah abrasi. Tragedi tsunami dan tewasnya salah seorang anak aki¬bat batu yang menggelinding dari atas bukit, membuat tekadnya semakin bulat untuk mena¬nam pohon bakau di Pantai Utara Maumere yang belum lama dihantam tsunami itu. Saat harta bendanya ludes akibat tsunami, mereka justru melakukan sesuatu yang sama sekali tidak menghasilkan. Bahkan sang istri harus rela menjual kalungnya agar dapat membeli polybag untuk menanam bibit bakau.

Pengabdian itu nafas, memberi dengan jiwa

Pengabdian pada seni tari tampaknya menjadi nafas bagi Didik Nini Thowok. Berawal dari pelajaran tari yang diperoleh dari tukang cukurnya, ia semakin jatuh hati pada seni tari. Tak pernah cukup untuk belajar. Menampilkan berbagai karyanya di luar negeri dan menjadi maestro tari. “Kakek saya pernah berpesan kalau maju ha¬rus bisa mbodo; jangan merasa sudah pintar dan tak mau belajar atau mendengar dari orang lain. Hati dan pikiran harus selalu terbuka menerima masukan,” kata-kata kakeknya inilah yang terus dipegang Didik dalam menekuni dunia tari. Didik pun meneguhkan tekadnya bukan hanya sebagai penari semata, tetapi juga aktif selaku pen¬cipta dan penata tari, serta pengelola sanggar tari. Didik benar-benar hidup dari dan untuk tari.

Sementara bagi Sugeng Siswoyudono, kehilangan satu kaki bukan berarti ia kehilangan masa depannya. Sebaliknya, ia justru menjadi seorang yang berlebih. Ia membuat kaki palsu yang nyaman dipakainya, dan juga membuatkannya untuk mereka yang membutuhkan. Ia kemudian mendirikan Bengkel Prothesa Than Must Soegenk (baca: Den Mas Su¬geng). Saat tampil dalam salah satu episode Kick Andy, begitu banyak respon positif yang diterima. Hingga kemudian lahirlah program 1000 kaki palsu yang hingga kini sudah memberikan lebih dari 700 buah kaki palsu.

Pengabdian Menembus Batas, Abnormalitas yang Menginspirasi

Begitu banyak orang gila yang dengan kegilaannya memberikan pengabdian diluar batas orang kebanyakan. Suster Rabiah rela menerjang ombak, terapung di laut bermalam-malam, demi mengunjungi pasiennya. Saat tugas dan perahu motor yang ditumpanginya hancur diterjang ombak, maka ia harus bersabar terdampar di pulau tidak berpenghuni hingga tujuh hari hingga ada yang menolong. Iapun kini lebih dikenal sebagai Suster Apung. Sementara sejawatnya di kota menikmati berbagai fasilitas penunjang kesehatan, Suster Apung masih sibuk berkutat dengan peralatan medis sederhana menjangkau pasien dalam wilayah kerjanya meliputi satu kelurahan dan empat desa yang tersebar di 25 pulau di perbatasan antara Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar. Sejak 10 Agustus 1978 hingga sekarang, telah lebih dari tiga puluh tahun Suster Rabiah mengabdi sebagai perawat di pulau-pulau kecil di sekitar Laut Flores.

Sementara itu, Wanhar Umar menjadi guru sekaligus kepala sekolah seorang diri sejak usia 14 tahun. Ia hanya mengajar baca-tulis-hitung karena hanya kemampuan itu yang ia miliki, sebab pendidikannya pun hanya tamatan sekolah dasar. Bangunan sekolahnya hanya terdiri dari tiga ruang yang saling terhubung satu sama lain beratapkan seng bolong dengan dinding lapuk. Sekolah itu tak berpagar dan hanya berlantaikan ta¬nah. Hal ini dilakoninya sejak tahun 1985. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhalasan akan sebentuk pengabdian.

Dalam salah satu bagian, Baba Gendu menceritakan keluhannya selama ini, “Sudah merdeka, kok masih banyak orang yang kesulitan dan sakit jiwa. Ada apa? Berarti nega¬ra ini masih belum merdeka.” Tanyakan pada hati anda masing-masing, sudahkah kita merdeka? Merdeka dari rasa sombong, merdeka dari rasa dengki dan keserakahan. Sudahkah kita memerdekakan diri kita hingga dapat melakukan sesuatu untuk lingkungan sekitar kita. Ataukah kita tidak cukup waras hingga mata hati kita tak lagi terbuka, nurani kita tak lagi tersentuh melihat ketakberdayaan disekitar kita. Apakah pahlawan-pahlawan sunyi itu masih dapat kita temukan? Ataukah para pahlawan sunyi itu tertutup oleh bisingnya teriakan mereka yang minta diakui dirinya sebagai pahlawan?.

|
Share Kick
21085 dibaca



Kommentar Anda :

Aturan Posting Kommentar :

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan yang berlaku dan ditetapkan oleh kickandy.com.

Pasal Sanggahan :

kickandy.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya.

kickandy.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Data dan/atau informasi yang tersedia di kickandy.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya.



Kamis, 11 Maret 2010 10:19:03 Wib
ari dwi puspita : menambah wawasan
mungkin tidak hanya seven heroes yang akan nampak berikutnya
Kamis, 11 Maret 2010 07:59:32 Wib
zainul arifin : mereka masih ada
"Apakah pahlawan-pahlawan sunyi itu masih dapat kita temukan? Ataukah para pahlawan sunyi itu tertutup oleh bisingnya teriakan mereka yang minta diakui dirinya sebagai pahlawan?"
----------------
saya percaya di manapun para pahlawan sunyi pasti ada. pahlawan sejati tidak perlu teriakan, tepuk tangan.
Kamis, 11 Maret 2010 01:45:10 Wib
indra sahmaja : pahlawan di sekitar kita
kisah yang dapat menginspirasi, sangat menjadi teladan buat anak muda seperti saya
Rabu, 10 Maret 2010 22:12:23 Wib
Cindy : penasaran..
penasaran pengen baca bukunya...
gimana cara dapetin bukunya???
Rabu, 10 Maret 2010 13:41:36 Wib
Nesty : heroes
smoga kita bisa mngghargai karya n pengabdian orang lain....
walaupun tidak mndapat gelar sebagai PAHLAWAN
Rabu, 10 Maret 2010 13:37:50 Wib
siti : Pahlawan sunyi disekitar kita
Dalam buku ini dapat ditemukan teladan sejati, mengedepankan hati nurani, jauh dari promosi apalagi basa basi......
Rabu, 10 Maret 2010 12:09:08 Wib
Riri : Buku
Buku yang membangkitkan semangat anak muda seperti kita....
Rabu, 10 Maret 2010 10:19:16 Wib
elisa laura munthe : lizz
great book...........
Selasa, 09 Maret 2010 22:07:41 Wib
bangun prakoso : Pahlawan Sunyi Disekitar Kita
isi dari buku ini menjadi inspirasi untuk kita semua
Selasa, 09 Maret 2010 15:52:21 Wib
sri rizky : Pahlawan Sunyi Disekitar Kita
mungkin dengan membaca buku ini
aku akan bener2 mengetahui
sosok pahlawan sejati tuh seperti apa
123456NextLast ›
Partners :
©2009 Enterprise All Rights Reserved